Saturday, April 2, 2011

Alquran Tertua di Indonesia Singgah ke Ternate

Al-Qur'an Pertama
REPUBLIKA.CO.ID,TERNATE-- Al-Quran tertua di Asia yang didatangkan dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) milik Kesultanan Ternate akan ditampilkan pada festival Legu Gam pada 1 hingga 16 April dan bisa dilihat langsung oleh masyarakat.

Ketua Panitia Legu Gam, Arifin Djafar di Ternate, Kamis, mengatakan, Al-Quran kuno yang terbuat dari kulit kayu, berisikan ayat-ayat Al-Quran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak dari kayu, diarak dari bandara Sultan Babullah ke Kedaton Kesultanan Ternate.

"Kitab suci ini dipinjam dari Pemda Kabupaten Alor untuk dipamerkan pada acara Legu Gam MKR 2011. Al-Quran tua ini akan dibaca saat tertentu pada acara itu," kata Arifin yang juga Wakil Walikota Ternate. Al-Quran kuno ini dibawa ke Alor Besar pada 1519 M oleh Iang Gogo yang merantau bersama keempat saudaranya dengan misi penyebaran Agama Islam hingga ke Alor.

Saat itu, Al-Quran ini dibawa pada masa Kesultanan Babullah lima bersaudara berlayar dari Ternate dengan menggunakan perahu layar yang menurut riwayat bernama Tuma Ninah, yang berarti "Berhenti/Singgah Sebentar".

Al-Quran ini tersimpan di rumah pondok sekitar tahun 1982, saat itu, kata Arifin terjadi kebakaran besar yang melanda rumah pondok tempat menyimpan kitab tua ini yang menghanguskan seluruh bandan dan isi rumah termasuk semua benda-benda peninggalan Ia Gogo yang dibawa dari Ternate.

"Tetapi anehnya, Al-Quran tertua ini tidak terbakar dan hingga saat ini masih tetap terawat dan utuh," kata Arifin.
Sebelumnya, Al-Quran di bawa oleh rombangan dengan menggunakan pesawat Express. Al-Quran tersebut langsung diarak dari Bandara Babullah ke Kedaton Kesultanan Ternate yang berjarak sekitar 7 Km. Al-Quran tertua tersebut dibawa oleh pihak Kesultanan Ternate, dan didampingi oleh seluruh perangkat kesultanan (bobato).

Rahasia yang Tak Akan Diungkapkan Pria

SETIAP orang pasti memiliki rahasia, namun pria mungkin lebih menutup rapat semua ketakutan dan kekhawatiran yang dimiliki. Nah, inilah beberapa hal yang kerap mereka sembunyikan dari Anda.

Pada 2001, The Centres for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan jumlah pria yang pergi ke dokter untuk melakukan cek pencegahan masih setengah dari jumlah wanita. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun mereka merasa ada sesuatu yang ‘salah’ dalam diri mereka, rasa takut dan malu terasa lebih kuat sehingga mereka enggan untuk melakukan pemeriksaan.

Bahkan pada 2007, Harris Interactive menemukan bahwa 92% pria akan menunggu hingga beberapa hari untuk berobat jika penyakit mereka tak kunjung pergi.

  • Ketika dia tidak suka penampilannya

Tahukah Anda bahwa seperempat dari pria Amerika melakukan diet ketat? Sementara diperkirakan satu juta pria memiliki pola makan dan bentuk tubuh yang kurang sehat. Di sisi lain, para pakar kesehatan melihat bahwa adanya peningkatan dalam jumlah pria yang takut untuk mengonsumsi makanan karena merasa akan merusak bentuk tubuh mereka, sehingga mereka pun lebih memilih minum susu protein dan menambahkan steroid.

  • Ketika dia takut

Sebuah penelitian yang dilakukan di Belanda pada tahun 2005 menyingkap fakta kalau tingkat reaksi pria secara emosional terhadap rasa takut lebih rendah dibandingkan wanita. Dan ketika ia sudah tidak kuasa menghadapinya, alkohol tak jarang menjadi obat andalan.

  • Ketika dia depresi

Berdasarkan data statistik, 6 juta pria di Amerika menderita depresi. Dan para ahli menambahkan bahwa pria lebih memilih untuk mengaku kalau mereka kecapekan (atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya mereka suka), dibandingkan kalau mereka lagi sedih atau bersalah.

Berdoa Efektif Meredakan Kemarahan

SIAPA yang tak kesal dimarahi atau dihina orang lain? Apalagi jika kemarahan itu tanpa alasan. Apakah kita harus membalas kemarahan itu atau justru memendam amarah sendiri?

Sejumlah ahli di Ohio University, Amerika Serikat, mengatakan alangkah baiknya apabila Anda meredam kemarahan dengan mendoakan orang lain. Doa dapat meredam energi negatif efek dari kemarahan dan kekesalan tersebut.

Para peneliti kemudian menemukan fakta dari serangkaian studi. Peneliti memprovokasi kemarahan partisipan. Setelah itu, partisipan diminta mendoakan orang lain yang membutuhkan bantuan maupun dukungan. Hasilnya, kemarahan partisipan reda dan lebih tenang.

Menurut seorang penulis studi Brad Brushman, pakar komunikasi dan psikologi, metode itu sepertinya efektif, bahkan untuk orang yang tidak terlalu religius sekalipun. Studi ini diterbitkan secara online pada 18 Maret di Personality and Social Psychology Bulletin.

"Kami menemukan bahwa doa benar-benar dapat membantu orang mengatasi kemarahan mereka, mungkin dengan membantu mereka mengubah cara mereka memandang kejadian yang membuat mereka marah dan membantu mereka tak terlalu mengambil hati," tuturnya.